DPRD HARAP DINKES TANGANI ANAK PENGIDAP TUMOR
Biak,14/10 (ANTARA) – Kalangan DPRD Kabupaten Biak Numfor, Papua mengharapkan jajaran Dinas Kesehatan (dinkes) segera menangani anak pengidap tumor mata, Barbarina Sarawan (8) yang kondisinya sangat memprihatinkan.

Ketua Komisi III DPRD Biak Drs Yusuf Brabar MM di Biak, Kamis, mengakui, dirinya sangat prihatin dengan sikap dinas kesehatan Biak yang belum melakukan tindakan nyata dalam penanganan medis terhadap pasien tumor mata Barbarina Sarawan.
“Komisi III DPRD telah mengagendakan rapat dengar pendapat dengan dinas terkait dalam menyikapi penanganan pasien anak pengidap tumor mata,” ungkap Yusuf Brabar.
Ia mengakui, jajaran DPRD Biak hingga saat ini hanya mendapatkan laporan dari wartawan dan kelompok anak Biak community yang secara sukarela mengalang bantuan kemanusiaan pengumpulan koin peduli kasih untuk membantu mencari dana biaya pengobatan pasien anak pengidap tumor mata tersebut.
Upaya penggalangan koin peduli kasih digagas wartawan bersama anak Biak community, menurut Brabar, sebagai aksi nyata tindakan aksi kemanusiaan guna meringankan beban penderitaan pasien anak pengidap tumor mata yang sangat membutuhkan uluran tangan masyarakat.
“Terobosan pengumpulan koin peduli kasih pasien anak tumor mata patut didukung, saya harapkan melalui aksi kemanusiaan ini mampu mengumpulkan dana bagi pengobatan pasien Barbarina Sarawan ke RSCM Jakarta,” harap Yusuf Brabar.
Sementara itu, ketua Fraksi Barisan Kebangkitan Republik Nasionalis Godlief JJ Kawer S.Hut, mengakui, pihak Dinkes bersama Pemkab Biak dapat memberikan perhatian kepada pasien anak pengidap tumor mata Barbarina Sarawan.
“Saya sangat prihatin dengan kondisi pasien anak pengidap tumor mata, ya saat ini diperlukan dukungan dana berbagai pihak untuk membantu pengobatan rujukan ke RSCM Jakarta,” ujarnya.
Bentuk simpatik kalangan DPRD Biak secara sponitas mengumpulkan koin peduli kasih sebesar Rp1,4 juta untuk disumbangkan kepada anak pengidap pasien tumor mata Barbarina Sarawan melalui aksi wartawan dan anak Biak community.
Berdasarkan kondisi pasien anak pengidap tumor mata Barbarina Sarawan hingga Kamis pagi makin kritis karena tidak mendapat perawatan secara medis pasca kembali pengobatan dari rumah sakit Dian Harapan Jayapura.
ANAK BIAK COMMUNITY GALANG KOIN PEDULI TUMOR.
Biak, 12/10 (ANTARA) – Anak Biak Community Kabupaten Biak Numfor, Papua, Selasa, mengalang dana bantuan koin peduli pasien pengidap tumor mata Barbalina Sarawan (8) guna membantu membiayai pengobatan rujukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Sekretaris Anak Biak Community, Sergius Wabiser SH, di Biak, Selasa, mengatakan kegiatan kemanusiaan berupa pengumpulan koin peduli pasien pengidap tumor mata dilakukan untuk mencari dukungan dana pembiayaan pengobatan rujukan ke Jakarta.
“Secara spontitas komunitas anak Biak melakukan aksi penggalangan koin peduli Barbalina Sarawan, ya target kami bagaimana anak pengidap tumor mata segera dilakukan pengobatan, sehingga bisa sembuh,” ungkapnya.
Ia mengatakan pelaksanaan koin peduli Barbalina Sarawan terlaksana karena kerja sama dengan kalangan media guna menggugah para dermawan untuk memberikan bantuan koin bagi penyembuhan Barbalina Sarawan.

Meski kegiatan pengumpulan koin peduli pasien tumor mata baru dioperasikan, tetapi pihaknya telah menerima bantuan dana yang terkumpul mencapai Rp61 ribu.
“Melalui aksi koin peduli Barbalina Sarawan diharapkan akan terkumpul dana untuk selanjutnya diberikan kepada pasien pengidap tumor mata guna berobat sesuai rujukan ke RSCM Jakarta,” katanya.
Wabiser mengakui keluarga pasien tumor mata merupakan dari keluarga miskin serta hanya bekerja sebagai nelayan sehingga tidak mampu membiayai pengobatan di rumah sakit rujukan membutuhkan anggaran berkisar Rp50 jutaan.
“Saya imbau aksi kemanusiaan koin peduli Barbalina Sarawan dapat didukung berbagai pihak sehingga anak warga miskin ini bisa hidup normal dan bersekolah seperti biasanya,” kata sekretaris komunitas anak Sergius Wabiser.
Sebelumnya, anggota keluarga pasien tumor mata, Jhon Sarawan, mengharapkan bantuan dana dari berbagai pihak untuk mendukung pengobatan rujukan bagi anaknya Barbalina Sarawan.
“Tanpa bantuan dari kalangan dermawan maka kami tidak bisa membiayai pengobatan pasien tumor Barbalina Sarawan ke Jakarta, karena itu saya sangat membutuhkan uluran tangan masyarakat untuk pembiayaan pengobatan anaknya,” katanya.
Berdasarkan data pasien tumor mata Barbalina Sarawan (8), warga Kampung Inggiri, Distrik Biak Kota itu didiagnosa mengidap penyakit tumor mata ganas sehingga mata kanan telah mmepengaruhi penglihatan mata kiri pasien bersangkutan.
Anak cantik ini bakal kehilangan matanya.:-(

Warga Kampung Inggiri, Distrik Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua, Barbalina Sarawan (8), penderita tumor mata kiri pasrah menjalani kehidupan, karena tak punya biaya operasi di RSCM Jakarta.

Jhon Sarawan, paman Barbalina Sarawan di Biak, Senin mengharapkan bantuan biaya pengobatan dari Pemkab Biak dan para dermawan untuk meringankan beban pembiayaan pengobatan anaknya di RSCM Jakarta.
“Saya sudah mengajukan permintaan bantuan dana kepada Pemkab Biak, ya jawaban surat sekda Jhon Than menyebutkan dana bantuan masyarakat tahun 2010 telah habis,” ujar Jhon Sarawan kepada pers di Biak, Senin (4/10/2010).
Dia mengatakan, akibat tak punya dana untuk operasi tumor mata sesuai rujukan dokter rumah sakit Dian Harapan Jayapura, maka Barbalina Sarawan hanya tinggal di rumah dengan keluarga.

“Penyakit tumor mata dialami keponakannya makin parah karena mata sebelah kiri sudah tertutup sementara mata sebelah kanan mulai kabur penglihatannya,” ujar Jhon Sarawan tampak sedih menatap keponakan penderita tumor mata.
Sebagai masyarakat miskin yang bekerja sebagai nelayan, menurut Jhon Sarawan, dirinya tidak mungkin mempunyai dana mencapai Rp 50 juta, karena pendapatan sehari-hari dari menangkap ikan hanya cukup buat makan sehari-hari.
Ia mengakui, untuk membiayai pelaksanaan operasi penyakit tumor mata keponakannya itu di RSCM Jakarta, diperkirakan membutuhkan dana mencapai Rp 50 jutaan.
“Selama menjalani pengobatan di rumah sakit Biak dan RSDU Dok II hingga di RS Dian Harapan Jayapura, uangnya habis hingga Rp 10 juta. Pekerjaan sebagai nelayan saya tak sanggup menanggung biaya pengobatan, karena itu saya membutuhkan bantuan dari dermawan,” kata Jhon Sarawan sambil menggendong Barbalina Sarawan.
Secara terpisah, Wakil Ketua II DPRD Biak Jan Dantje Kbarek SE mengakui, dia sangat prihatin dengan kondisi penderita tumor mata Barbalina Sarakan, sebab jika tidak segera diobati dapat mengancam kehidupan anak bersangkutan.
Dia mengimbau, jajaran pemkab Biak bersama dinas kesehatan dapat memberikan bantuan pembiayaan bagi penderita tumor mata Barbalina Sarakan lewat dukungan anggaran Otsus bidang kesehatan.
“Kondisi fisik anak penderita tumor mata perlu mendapat penanganan medis secepatnya, bantuan dana Otsus paling tepat diberikan mengingat alokasi anggaran Otsus untuk kepentingan masyarakat asli Papua,” ujar politisi PDI Perjuangan.
Mohon uluran tangan dari teman – teman doa dan bantuan materinya yang terketuk hatinya dapat mentransfer di rekening Bank Papua Cabang Biak dengan nomor rekening : 500185000312353, atas nama Anak Biak Community Peduli Kasih. email : info@anakbiak.com.
Terimakasih untuk teman – teman sekalian. Kiranya Tuhan membantu dan memberkati kita sekalian untuk menolong anak manis ini untuk dapat bisa bermain kembali dengan teman – temannya.
Gempa di Papua telan dua korban jiwa.

Sedikitnya dua warga dilaporkan meninggal dunia setelah gempa beruntun di lepas pantai Papua.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa terkuat terukur 7,1 pada skala Richter.
Gempa kuat tersebut terjadi sekitar 10.16 WIB Rabu (16/6). Situs BMKG kemudian menyebarkan peringatan ancaman tsunami.
Menurut pantauan BMKG, pusat gempa berada 123km di tenggara Biak di Provinsi Papua pada kedalaman sekitar 10km.
Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Fauzi mengatakan kepada BBC bahwa peringatan bahaya tsunami sudah dicabut satu jam setelah gempa berkekuatan 7,1 tersebut.
Fauzi menambahkan gempa di dekat Biak itu didahului oleh foreshock berkekuatan 6,2 dan aftershock berkekuatan 5,3 dan 6,6.
Sejumlah laporan menyebutkan beberapa bangunan rusak dan ambruk di beberapa tempat yang dekat dengan pusat gempa, termasuk di Serui.
Tempat terparah
Aparat kepolisian Papua menyatakan Pulau Yapen menjadi tempat yang terkena dampak terparah akibat getaran gempa.
Kapolres Yapen AKBP Denny Siregar mengatakan kepada BBC bahwa sedikitnya 20 rumah rusak berat dan sebuah gereja ambruk.
Menurut Denny, dua korban tewas diduga tertimbun bangunan yang runtuh.
Dia menambahkan gempa kuat mendorong banyak warga keluar rumah dan langsung lari ke tempat yang lebih tinggi, sebagian lagi berkumpul di lapangan bola.
Yan Pieter Yarangga dari Pulau Biak mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa ratusan orang keluar dari rumah tidak lama setelag meraksan getaran gempa.
“Saya ikut lari. Saya takut akan ada gempa susulan,” kata Yarangga.
Warga beberapa daerah di Indonesia timur juga merasakan gempa. Sebelum gempa di Papua, Kota Palu, Sulawesi Tengah, diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR) pada Rabu pagi pukul 08.52 WITA.
Menurut laporan situs BMKG, gempa yang tidak berpotensi tsunami itu berpusat pada 1,44 Lintang Selatan dan 119,25 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.
Lokasi gempa sendiri terletak di 91 km di bagian barat daya Kota Palu.
Gempa tektonik berkekuatan 4,9 Skala Richter (SR) mengguncang Kota Ambon dan sekitarnya pada Rabu sekitar pukul 17.19 WIT.
Menurut Fauzi dari BMKG, gempa yang terasa di Palu, Sulawesi dan di sekitar Biak tidak saling terkait, meski dengan selang waktu berdekatan.
Ajang Kreasi & Prestasi 2010
Untuk memperingati hari Pendidikan Nasional, bertempat di Water Bases Biak di adakan berbagai Lomba :
* Lomba Pemilihan Putri Pantai 2010, dengan kategori umur 15 – 17 tahun
* Lomba Mewarnai, dengan kategori umur 5 – 7 tahun
* Lomba Menebak Lagu Nasional, dengan kategori umur 15 – 17 tahun.
Acara ini bekerjasama Radio Perkasa FM & LANAL Biak dan di dukung oleh Dinas Pendidikan Kab. Biak Numfor dan Dinas Pariwisata Kab. Biak Numfor.







Photo by. Onal Rukawa