Archive for the ‘Renungan’ Category
SULITNYA MENDAPATKAN KETULUSAN
Bacaan Alkitab :Kolose 3:22-23.Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal,jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.Apapun juga yang kamu perbuat,perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
“Di dalam kehidupan setiap hari,mungkin kita pernah merasa di lukai akibat ketidaktulusan.Tulus artinya sungguh dan bersih hati,perlakuannya benar-benar terbit/keluar dari hati yang paling dalam,hati yang suci,jujur,tidak bermuka dua,tidak pura-pura dan serong.Sedangkan ketidaktulusan adalah kebalikannya.
* Apakah kita pernah terluka karena orang yang mengaku sangat mencintai kita,tetapi ternyata diam-diam mencintai orang lain ? Cinta dan kebaikan kita kepadanya di abaikan begitu saja dan kita di campakannya.
* Apakah kita pernah terluka karena orang-orang kepercayaan kita,yang di perjuangkan mati-matian agar mendapatkan posisi yang lebih baik dan taraf hidup yang meningkat,ternyata menghianati dan menjelek-jelekkan kita di belakang ?
* Apakah kita pernah terluka karena sahabat-sahabat kita yang kelihatannya sangat mendukung dan berpihak kepada kita,namun mereka menusuk dari belakang dan menjatuhkan kita ?
* Apakah kita pernah terluka karena anak yang kita besarkan dengan kasih sayang dan pengorbanan,setelah dewasa tidak mempedulikan kita sebagai orang tuanya ?
* Apakah kita pernah terluka karena orang-orang yang berkata bahwa kita dapat mempercayai mereka sehingga kita menceritakan semua rahasia kepada mereka,namun mereka membeberkan rahasia tersebut kepada banyak orang ?
* Apakah kita pernah terluka karena orang-orang yang selalu kita utamakan,yang selalu menerima pertolongan dan pemberian-pemberian dari kita,ternyata sering menggusipkan serta menjelekkan kita ?
* Apakah kita pernah terluka karena orang-orang yang di depan kita selalu berkata,”aku sangat prihatin padamu”,”aku mendukungmu dalam doa”,”aku mengasihimu”,ternyata bermuka dua dan mengharapkan yang buruk terhadap kita ?
* Apakah kita pernah terluka karena orang-orang yang di depan kita berlaku manis,taat,hormat dan berpihak pada kita,ternyata mencemoohkan kita di belakang ?
Saudaraku,Mungkin pernah terbesit penyesalan di dalam hati kita,untuk apa lagi berbuat baik kepada mereka orang-orang yang munafik,yang ternyata tidak tulus mengasihi dan bersahabat dengan kita.Tetapi hal yang seharusnya kita lakukan adalah “TERUS MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA SEMUA ORANG”.Keyakinan terhadap kasih dan keadilan TUHAN kiranya menguatkan kita senantiasa untuk tidak jemu-jemu melakukan yang baik,sambil terus menjaga hati kita agar tidak tercemar dengan sikap yang buruk.Berdoalah agar sikap baik yang di kerjakan oleh Roh Kudus akan menggantikan kebiasaan buruk di dalm diri mereka dan diri kita.mintalah kepada Tuhan agar Ia mengerjakan sesuatu yang baru dan memberikan kepada mereka dan diri kita ketulusan hati.~amin~
“TEGURAN DAN NASIHAT YANG TULUS LEBIH BAIK DARI PADA KEJAHATAN YANG DI BALUT DENGAN SIKAP MANIS”
========TUHAN YESUS MEMBERKATI========
“JADILAH NAKHODA DALAM PERAHUKU”
Ku lihat Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata: “Lepaskan tambatan perahumu dan biarkan Aku membawa engkau ke seberang. Bukan rencanaKu, untuk engkau tetap tertambat di sini.” Dengan takut, gelisah dan khawatir aku menjawabNya, “Tuhan bukankah lebih baik aku tetap disini. Aku tidak akan melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau.”
Lembut Yesus memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, “Memang disini engkau tidak akan mengalami topan, badai dan angin ribut. Tapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semua itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu, karena Akulah TUHAN.”
Dalam pergumulan berat, aku memandangi tali yang mengikat perahuku. Di tali itu ku lihat ada rasa khawatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dll. Dalam hati aku bertanya-tanya: “tahukah Ia akan apa yang aku inginkan? Mengertikah Ia akan apa yang aku rindukan dan dambakan?”
Yesus memelukku dan berbisik lembut, “Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, rindukan dan dambakan bahkan mungkin kebalikannya yang akan kau dapat, tapi maukah kau percaya. RancanganKu adalah rancangan damai sejahtera, masa depanKu adalah masa depan yang penuh harapan.”
Ia memeluk dan menangis bersamaku, dengan berat aku melepaskan tali perahuku. Ku lepaskan semua rasa khawatir itu dari hatiku, ku taruh hak atas masa depanku di tanganNya. Aku tidak tahu bagaimana masa depanku, sambil menangis aku menatapNya dan berkata: “Jadilah nahkoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar”
Teman maukah kau serahkan hak atas masa depanmu dalam tanganNya, tanpa engkau pernah tahu bagaimana Ia akan merancang semuanya itu, tapi hanya dengan satu keyakinan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11)

Met memasuki hari minggu dan met beribadah. Tuhan memberkati kita semua Amin
RENUNGAN MINGGU
PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 2:22-29
Ayat Fokus: ay. 29 “Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya”.
Renungan:
Tentu tidak sulit untuk melakukan kebenaran di dalam hidup. Apalagi sebagai pekerja Kristen. Sebab melakukan kebenaran adalah esensi hidup kita. Rahasianya adalah kita telah dibenarkan oleh Kristus, melalui suatu jalan yang sangat mahal, yaitu Salib, kematian, dan kebangkitanNya.
Tetapi memang kita kerap menyaksikan, sulit juga orang melakukan hal-hal yang benar. Ayat bacaan kita mengatakan, kesulitan itu terletak karena sikap kita yang malu untuk melakukan hal-hal yang benar. Nah, tentu kita akan kembali bertanya, mengapa harus malu melakukan hal yang benar? Jawabannya, yaitu kita sudah terbiasa menyaksikan orang memutar-balikkan kebenaran. Lalu kita memandang: ‘ah, sudah biasa’. Akibatnya, jika tidak melakukan hal serupa, kadang dipandang ‘tidak ikut trend’. Malah ada bujukan seperti ini: “buat saja, tidak ada yang tau”, atau “dia juga buat, jadi aku buat saja”.
Entah, siapakah yang harus kita contohi? Berpegang pada jati diri sebagai orang Kristen di tengah tantangan seperti itu harus menjadi keputusan kita. Sebab, kita telah dilahirkan dalam kebenaran Kristus melalui salib, jadi kita dipanggil untuk tetap melakukan kebenaran, dalam kondisi apa pun. Kebenaran itu mahal, tetapi melakukan kebenaran itu ‘gratis’. Jadi selagi tidak dibeli, lakukanlah hal-hal yang benar.
EMPAT PRINSIP BERKAT
Kejadian 12:2
Alkitab mengajarkan bahwa kita seharusnya menggunakan “berkat-berkat kita” untuk memberkati orang lain:
1. Berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada kita harus mengalir ke orang lain
Alkitab mengajarkan bahwa kita diberkati bukan cuma sekedar agar kita merasa lebih baik, bukan cuma sekedar agar kita lebih bahagia dan lebih nyaman, tetapi supaya kita bisa memberkati atau menolong orang-orang lain.
Allah berkata kepada Abraham: “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan MENJADI BERKAT.” (Kejadian 12:2)
Allah memberkati Abraham supaya Abraham mengalirkan berkata itu kepada orang lain …
Itulah yang disebut: “Masterpiece for Masterplan”
Anda dijadikan sebagai Maha Karya ciptaan-Nya untuk tujuan mewujudkan Rencana-Nya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa; menolong orang lain mewujudkan impian mereka; menjadikan semua bangsa murid Kristus …
Prinsip pertama dari berkat Tuhan adalah berkat itu harus mengalir keluar …
2. Ketika kita memberkati orang lain, Tuhan akan memelihara hidup kita
Prinsip kedua dari berkat Tuhan adalah apabila kita menaruh perhatian penuh untuk memberkati atau menolong orang lain, maka Tuhan akan mencukupi semua kebutuhan kita.
Tuhan Yesus berkata, “Sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa itu juga dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.” (Lukas 18:29-30)
Ketika kita memperhatikan kebutuhan orang lain, Tuhan akan mengambilalih semua masalah dan kesulitan hidup kita. Dia mengatasi masalah dan kesulitan kita jauh lebih baik dibanding kita sendiri yang mengatasinya.
Ketika kita menaruh perhatian untuk memberkati hidup orang lain, maka Tuhan akan memberikan imbalannya sekarang ini juga dan kita akan menerima hidup yang kekal. Itulah yang berkat sejati.
Alkitab berkata, “Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri …” (Amsal 11:17)
3. Ketika kita memberkati orang lain maka kita diberkati kembali
Semakin banyak kita memberkati orang lain; semakin banyak kita menolong orang lain; semakin banyak pula Tuhan akan memberkati hidup kita.
Di dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus berkata, “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Prinsip berkat yang ketiga adalah Semakin banyak kita mencoba untuk memberkati orang lain di sekitar kita, maka semakin Tuhan akan berkata: “Aku akan mencurahkan berkat ke atas hidupmu dengan berlimpah-limpah.”
4. Semakin banyak kita diberkati Tuhan, Dia mengharapkan kita menolong lebih banyak lagi orang lain
Yesus berkata, “… Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lukas 12:48)
Prinsip berkat Tuhan keempat adalah semakin banyak kita diberikan, semakin banyak kita dipercayakan maka sesungguhnya semakin besar tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan.
Kita harus mempertanggungjawab kan semua pemberian Tuhan, kita harus mengerti bahwa jika kita telah diberkati lebih banyak dari pada orang lain di sekitar kita, hal itu berarti bahwa Tuhan punya tujuan agar kita peduli dan memperhatikan orang lain …
“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” (2 Korintus 5:10).
