Dengan adanya pembahasan singkat tentang Tradisi Pembayaran Mas Kawin yang dilakukan secara Adat oleh Suku Biak-Papua yang coba saya uraikan dalam tulisan singkat berikut ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman serta penjelasan secara garis besar tentang bagaimana cara Masyarakat Adat Suku Biak, dalam mengadakan pembayaran atau penyerahan Mas Kawin menurut Adat atau Tradisi yang sering dilakukan di dalam prosesi penyerahan Mas Kawin pada sebuah acara pernikahan Orang Biak.
Secara khusus, cara/tradisi pembayaran Mas Kawin, menurut bahasa Biak disebut ”ARAREM “. Pembayaran Mas Kawin adalah salah satu tradisi yang tidak dapat diabaikan, karena hal ini adalah konsekwensi dari sebuah perkawinan yang dilangsungkan secara Adat oleh Suku Biak-Papua.
Masyarakat Asli Papua tak terkecuali Orang Biak, sangat terikat dengan apa yang disebut adat atau tradisi. Hal tersebut nampak pada cara membayar Mas Kawin yang sering dilakukan di dalam sebuah prosesi penyerahan Mas Kawin.
Terdapat beberapa) tahap dalam pembayaran / pemberian Mas Kawin yang dilakukan oleh Pihak Laki-laki kepada Pihak Perempuan, diantaranya :
Pertemuan dan Kesepakatan.
- Pihak Pertama adalah Pihak Laki-laki;
- Pihak Kedua adalah Pihak Perempuan.
Tahap Awal, Biasanya dilakukan oleh Pihak Pertama, yang didasari oleh sebuah perkawinan. Hal ini dilakukan oleh karena tuntutan tradisi atau adat yang wajib untuk dilaksanakan.
Di dalam pertemuan ini, yang sangat berperan adaah pihak Laki-laki sebagai Pihak Pertama yang mana pertemuan tersebut sasarannya lebih di tujukan kepada orang tua Pihak Kedua ( Perempuan). Pada pertemuan pertama inii, pihak pertama akan menanyakan berapa jumlah harga Mas Kawin yang diminta oleh Orang Tua Pihak Kedua (Perempuan).
Jika dalam pertemuan ini menghasilkan suatu kesepakatan, maka Pihak Pertama mulai menyiapkan segala sesuatu yang diminta oleh Pihak Kedua yang berhubungan dengan Mas Kawin tersebut. Mas Kawin yang dimaksud terdiri dari sejumlah barang berupa piring dan uang. Ketika usaha/upaya Pihak Pertama telah sesuai dengan permintaan atau tuntutan Pihak Kedua, maka diadakan perternuan kedua.
Tahap Kedua, Pertemuan kedua berbeda dengan pertemuan pertama, karena Pihak Kedua diundang oleh Pihak Pertama ke rumah Pihak Pertama. Maksud pertemuan ini adalah agar Pihak Kedua dapat melihat harta benda yang telah disiapkan oleh Pihak Pertama. Dan jika menurut Pihak Kedua harta benda yang telah dikumpulkan itu sesuai, maka akan disepakati waktu pelaksanaan pembayaran harta atau Mas Kawin tersebut.
Prosesi Penyerahan Mas Kawin (ARAREM)
Terdapat dua hal yang akan sangat nampak pada saat penyerahan Mas Kawin.
- Jika Pihak Kedua (Perempuan) berasal dari kampung lain, maka dalam proses ini Pihak Pertama akan melibatkan semua saudara/kerabat yang berada di kampungnya secara keseluruhan. Untuk mengantar sampai menyerahkan harta (Mas Kawin) kepada Pihak Kedua (Perempuan) menuju tempat atau rumah yang sudah disepakati pada pertemuan kedua.
- Jika Pihak Kedua (Perempuan) berasal dari Kampung yang sama, maka prosesi mengantar hingga penyerahan Mas Kawin akan dilakukan/diantar oleh keluarga serta kerabat dari Pihak Pertama.
Prosesi Arak-arakan Emas Kawin (ARAREM)
Orang Biak dijuluki sebagai salah satu suku di Papua yang memiliki jiwa seni tinggi, oleh sebab itu seni yang ada selalu dipadukan dan di implementasikan dengan apa saja yang mereka lakukan.
Dalam konteks ini, ketika Mas Kawin hendak diantar, akan ada arak-arakkan dalam bentuk barisan besar, dan dalam barisan yang mengantar Mas Kawin tersebut terdiri dan 3 (tiga ) kelompok.
Kelompok Pertama; adalah mereka yang dituakan dalam keluarga Pihak Pertama ( Laki-laki), yang terdiri dari perempuan-perempuan. Kehadiran mereka dalam prosesi tersebut adalah selalu berada dalam barisan paling depan, dengan menggunakan busana adat Biak, dan memegang piring-piring besar yang menurut bahasa Biak disebut “Ben be pon“ (piring dulu yang memiliki nilai histori sejarah adat yang tinggi).
Kelompok Kedua; adalah mereka yang terdiri dari kelompok campuran, baik\laki-laki maupun perempuan yang dalam hal ini mereka bertindak sebagai pengantar. Mereka pun sama dengan kelompok pertama, tetapi harta/piring yang mereka pegang adalah piring- ring kecil sebagai pelengkap harta dan jumlah yang ada.
Kelompok Ketiga; adalah mereka yang terdiri dari laki-laki dan perempuan tua maupun muda yang kehadiran mereka adalah sebagai kelompok musisi/kelompok penyanyi. Kelompok inilah yang membentuk suatu barisan yang disebut barisan pengantar Mas Kawin ( ARAREM).
Pada prosesi ini, diwarnai dengan berbagai macam bunyi nyanyian, alat musik serta tarian “Yospan“ yang memberi nuansa tersendiri bagi Pihak Pertama ( Laki-laki ) dan Pihak Kedua (Perempuan).
Setelah barisan pengantar tiba di tempat tujuan, maka proses selanjutnya adalah penandatanganan berita acara pembayaran Mas Kawin. Dengan adanya penandatanganan Berita Acara pembayaran Mas Kawin ini, maka berakhirlah proses dan prosesi penyerahan Mas Kawin (ARAREM).

Sedikitnya dua warga dilaporkan meninggal dunia setelah gempa beruntun di lepas pantai Papua.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa terkuat terukur 7,1 pada skala Richter.
Gempa kuat tersebut terjadi sekitar 10.16 WIB Rabu (16/6). Situs BMKG kemudian menyebarkan peringatan ancaman tsunami.
Menurut pantauan BMKG, pusat gempa berada 123km di tenggara Biak di Provinsi Papua pada kedalaman sekitar 10km.
Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG Fauzi mengatakan kepada BBC bahwa peringatan bahaya tsunami sudah dicabut satu jam setelah gempa berkekuatan 7,1 tersebut.
Fauzi menambahkan gempa di dekat Biak itu didahului oleh foreshock berkekuatan 6,2 dan aftershock berkekuatan 5,3 dan 6,6.
Sejumlah laporan menyebutkan beberapa bangunan rusak dan ambruk di beberapa tempat yang dekat dengan pusat gempa, termasuk di Serui.
Tempat terparah
Aparat kepolisian Papua menyatakan Pulau Yapen menjadi tempat yang terkena dampak terparah akibat getaran gempa.
Kapolres Yapen AKBP Denny Siregar mengatakan kepada BBC bahwa sedikitnya 20 rumah rusak berat dan sebuah gereja ambruk.
Menurut Denny, dua korban tewas diduga tertimbun bangunan yang runtuh.
Dia menambahkan gempa kuat mendorong banyak warga keluar rumah dan langsung lari ke tempat yang lebih tinggi, sebagian lagi berkumpul di lapangan bola.
Yan Pieter Yarangga dari Pulau Biak mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa ratusan orang keluar dari rumah tidak lama setelag meraksan getaran gempa.
“Saya ikut lari. Saya takut akan ada gempa susulan,” kata Yarangga.
Warga beberapa daerah di Indonesia timur juga merasakan gempa. Sebelum gempa di Papua, Kota Palu, Sulawesi Tengah, diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,3 Skala Richter (SR) pada Rabu pagi pukul 08.52 WITA.
Menurut laporan situs BMKG, gempa yang tidak berpotensi tsunami itu berpusat pada 1,44 Lintang Selatan dan 119,25 Bujur Timur dengan kedalaman 10 kilometer.
Lokasi gempa sendiri terletak di 91 km di bagian barat daya Kota Palu.
Gempa tektonik berkekuatan 4,9 Skala Richter (SR) mengguncang Kota Ambon dan sekitarnya pada Rabu sekitar pukul 17.19 WIT.
Menurut Fauzi dari BMKG, gempa yang terasa di Palu, Sulawesi dan di sekitar Biak tidak saling terkait, meski dengan selang waktu berdekatan.
Untuk memperingati hari Pendidikan Nasional, bertempat di Water Bases Biak di adakan berbagai Lomba :
* Lomba Pemilihan Putri Pantai 2010, dengan kategori umur 15 – 17 tahun
* Lomba Mewarnai, dengan kategori umur 5 – 7 tahun
* Lomba Menebak Lagu Nasional, dengan kategori umur 15 – 17 tahun.
Acara ini bekerjasama Radio Perkasa FM & LANAL Biak dan di dukung oleh Dinas Pendidikan Kab. Biak Numfor dan Dinas Pariwisata Kab. Biak Numfor.







Photo by. Onal Rukawa
BIAK-Ribuan warga Kristiani dari berbagai denominasi gereja di kabupaten Biak Numfor, Papua memperingati paskah serta menyambut kebangkitan Yesus Kristus dalam bentuk pawai obor yang dikemas dalam berbagai kreatifitas serta nuansa penderitaan Yesus, Minggu (4/4) sekitar pukul 03.30 WIT. Salah satunya pentas jalan penderitaan Yesus yang ditampilkan lingkungan pelayanan Petra di jemaat GKI Maranatha sangat mendapat perhatian dan apreasiasi warga yang mengikuti pawai obor maupun menyaksikan dipinggiran ruas jalan Imam Bojol di pusat kota.![]()
Dalam pentas jalan dengan tema penderitaan Yesus yang ditampilkan lingkungan pelayanan Petra ini merupakan kegiatan rutin tiap tahun menjelang kebangkitan Yesus yang diperankan oleh anggota persekutuan angkatan muda (PAM). Pawai obor dijemaat GKI Maranatha yang merupakan jemaat kotawi dengan jumlah jiwa terbesar di daerah ini diatur oleh masing-masing majelis dan unsur-unsur jemaat dari beberapa lingkungan. Semua warga jemaatnya diarahkan tepat pukul 04.30 WIT telah bersama dalam ibadah fajar paskah dihalaman gereja. “ Warga jemaat dalam pawai obor diatur oleh majelis lingkungan yang dibantu oleh unsur PAM, PW dan PKB sedangkan untuk ibadah fajar paskah diatur oleh majelis dari urusan pekabarn injil bersama panitia hari raya gerejani “, kata pelayan jemaat pendeta M.Rumbiak Kapissa kepada Bintang Papua, Minggu (4/4). Dijelaskan bahwa untuk menyambut kebangkitan Yesus Kristus, setiap lingkungan telah diberikan himbauan untuk dapat mengatur rute pawai dan dapat mengemas suasana pawai dengan kreatifitas masing-masing. Warga jemaat yang bergabung dalam ibadah fajar paskah dijemaat ini sekitar 1200 orang lebih. Sementara itu jemaat GKI Ebenhazer Ridge, dalam menyambut ibadah fajar paskah yang dilakukan dihalaman gereja. Warga jemaatnya yang berada di sebelas wijk pelayanan melakukan pawai obor dimulai pukul 04.00 WIT. Warga jemaat yang berjumlah 600 orang lebih itu mulai ibadah fajar paskah tepat pukul 04.45 WIT dengan pelayan firman pendeta Max Kafiar,S.Si. Ketua jemaat GKI Ebenhaezer Ridge, pendeta Th.Puhili,S.Th mengatakan dalam merayakan pesta kemenangan iman, telah diatur oleh panitia hari raya gerejani sedangkan tata ibadah disiapkan oleh majelis urusan pekabaran injil. Diakhir ibadah fajar paskah panitia menyiapkan telur paskah bagi persekutuan anak dan remaja (PAR) serta pembagian hadiah dari berbagai jenis lomba yang sebelumnya telah digelar jelang paskah dijemaat ini. “ Kegiatan ini kami sambut dengan bebagai lomba jelang paskah, kemping paskah, pawai obor, ibadah fajar paskah dan pencarian telur paskah untuk unsur PAR “, kata Th.Puhili. Dari pantauan di Gereja Pantekosta Di Indonesia (GPDI) jemaat Sion Biak Kota, pelaksanaan menyambut fajar paskah juga dilakukan dengan pawai obor paskah yang diikuti sekitar 100 orang lebih warga jemaatnya. Sebelumnya warga jemaat telah semalam suntuk melakukan doa dan puji-pujian di gereja. Walaupun dalam pelaksanaan pawai obor paskah di kabupaten ini mencapai ribuan orang yang terlibat didalamnya, namun berjalan aman. Nampak anggota kepolisian berbaju preman juga mengawasi pelaksanaan tersebut, sedangkan patroli polisi dari polres dan polsek terus secara kontinue melakukan patroli. By. Opin Tanati










