Ku lihat Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata: “Lepaskan tambatan perahumu dan biarkan Aku membawa engkau ke seberang. Bukan rencanaKu, untuk engkau tetap tertambat di sini.” Dengan takut, gelisah dan khawatir aku menjawabNya, “Tuhan bukankah lebih baik aku tetap disini. Aku tidak akan melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau.”
Lembut Yesus memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, “Memang disini engkau tidak akan mengalami topan, badai dan angin ribut. Tapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semua itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu, karena Akulah TUHAN.”
Dalam pergumulan berat, aku memandangi tali yang mengikat perahuku. Di tali itu ku lihat ada rasa khawatir akan keuangan, pekerjaan, pasangan hidup, dll. Dalam hati aku bertanya-tanya: “tahukah Ia akan apa yang aku inginkan? Mengertikah Ia akan apa yang aku rindukan dan dambakan?”
Yesus memelukku dan berbisik lembut, “Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, rindukan dan dambakan bahkan mungkin kebalikannya yang akan kau dapat, tapi maukah kau percaya. RancanganKu adalah rancangan damai sejahtera, masa depanKu adalah masa depan yang penuh harapan.”
Ia memeluk dan menangis bersamaku, dengan berat aku melepaskan tali perahuku. Ku lepaskan semua rasa khawatir itu dari hatiku, ku taruh hak atas masa depanku di tanganNya. Aku tidak tahu bagaimana masa depanku, sambil menangis aku menatapNya dan berkata: “Jadilah nahkoda dalam perahuku dan marilah kita berlayar”
Teman maukah kau serahkan hak atas masa depanmu dalam tanganNya, tanpa engkau pernah tahu bagaimana Ia akan merancang semuanya itu, tapi hanya dengan satu keyakinan: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11)


Met memasuki hari minggu dan met beribadah. Tuhan memberkati kita semua Amin

PEMBACAAN ALKITAB: 1 Yohanes 2:22-29
Ayat Fokus: ay. 29 “Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya”.

Renungan:
Tentu tidak sulit untuk melakukan kebenaran di dalam hidup. Apalagi sebagai pekerja Kristen. Sebab melakukan kebenaran adalah esensi hidup kita. Rahasianya adalah kita telah dibenarkan oleh Kristus, melalui suatu jalan yang sangat mahal, yaitu Salib, kematian, dan kebangkitanNya.
Tetapi memang kita kerap menyaksikan, sulit juga orang melakukan hal-hal yang benar. Ayat bacaan kita mengatakan, kesulitan itu terletak karena sikap kita yang malu untuk melakukan hal-hal yang benar. Nah, tentu kita akan kembali bertanya, mengapa harus malu melakukan hal yang benar? Jawabannya, yaitu kita sudah terbiasa menyaksikan orang memutar-balikkan kebenaran. Lalu kita memandang: ‘ah, sudah biasa’. Akibatnya, jika tidak melakukan hal serupa, kadang dipandang ‘tidak ikut trend’. Malah ada bujukan seperti ini: “buat saja, tidak ada yang tau”, atau “dia juga buat, jadi aku buat saja”.

Entah, siapakah yang harus kita contohi? Berpegang pada jati diri sebagai orang Kristen di tengah tantangan seperti itu harus menjadi keputusan kita. Sebab, kita telah dilahirkan dalam kebenaran Kristus melalui salib, jadi kita dipanggil untuk tetap melakukan kebenaran, dalam kondisi apa pun. Kebenaran itu mahal, tetapi melakukan kebenaran itu ‘gratis’. Jadi selagi tidak dibeli, lakukanlah hal-hal yang benar.

Pdt Joice Tulaseket

Senin (07 Desember 2009), bertempat di lapangan sepak bola Saramom. Laga pertama SSB Byak yg tergabung dalam ‘Byak FC’ melawan Bempo FC menang telak 7 – 2. Dengan kemenangan di laga pertama ini  mampu membakar semangat anak – anak yang bernaung dalam SSB Byak, mampu memberikan yang terbaik untuk memajukan persepak bolaan ini kota Biak. Salut…!!!